Selasa, 27 November 2012

PEMANFAATAN BIOLOGI DALAM BIDANG KEDOKTERAN

Sebagai ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk kehidupan, manfaat Biologi dalam meningkatkan kesejahteraan manusia tidak perlu diragukan lagi. Berdasarkan ilmu murni Biologi, telah dikembangkan berbagai ilmu terapan (bioteknologi) yang telah memajukan dunia kedokteran, industri, pertanian, dan peternakan, serta perikanan. Seberapa besarkah pemanfaatan biologi untuk kesejahteraan manusia telah dilaksanakan? Untuk mengetahui hal tersebut marilah kita pelajari uraian selanjutnya berikut ini.
Dahulu banyak masalah penyakit yang tidak dipahami penyebab maupun cara pengobatannya, sehingga cara yang ditempuh untuk mencegah maupun dalam menyembuhkannya tidak tepat. Tetapi berkat perkembangan Biologi, khususnya dalam cabang ilmu: anatomi dan fisiologi manusia, mikrobiologi, virologi dan patologi, telah banyak membantu para dokter dalam memahami penyebab gangguan tersebut. Dengan demikian para dokter berhasil mencegah dan menyembuhkan berbagai penyakit yang sampai saat ini sering menjadi masalah yang menakutkan manusia.
Berikut ini adalah contoh-contoh sumbangan pengetahuan yang telah diberikan oleh Biologi beserta cabang-cabang ilmunya dalam dunia kesehatan dan atau kedokteran.
a.
Para penderita penyakit yang mengalami kerusakan pada salah satu organ tubuhnya, kini telah mendapatkan jalan keluarnya yaitu melalui teknik transplantasi (pencangkokan) organ. Transplantasi organ yang sudah berhasil dilakukan oleh para dokter adalah pencangkokan ginjal, jantung, sumsum tulang belakang maupun hati.
b.
Teknik fertilasi invitro telah dapat diaplikasikan tidak hanya pada hewan ternak, tetapi telah dapat dilakukan pada manusia. Teknik ini dapat membantu pasangan suami istri yang sulit mendapatkan keturunan karena suatu kelainan. Fertilasi ini tentunya berasal dari gamet pasangan yang bersangkutan. Teknik karakterisasi dan pemisahan gamet sperma yang membawa kromosom X dan Y (penentu jenis kelamin keturunan) juga telah berhasil dilakukan. Teknik ini memungkinkan para pasangan suami isteri mendapatkan keturunannya dengan jenis kelamin tertentu.
c.
Mikrobiologi kedokteran telah berhasil mengidentifikasi beberapa jenis mikroba yang menyebabkan penyakit pada manusia maupun hewan. Dengan demikian, antibiotik untuk mikroba-mikroba tersebut dapat dibuat.
d.
Virologi pun telah memberikan sumbangannya pada dunia kedokteran, dengan mendasari pengetahuan dalam usaha menciptakan vaksin-vaksin. Misalnya pada kasus yang baru saja terjadi yaitu mengenai Virus Flu Burung. Sebuah surat kabar memberitakan bahwa Virus Flu Burung atau disebut juga Virus Avian Influenza, yang hanya dapat diteruskan kepada manusia melalui kontak yang sangat dekat, telah dapat ditemukan vaksinnya oleh para pakar Imunologi dan Bioteknologi di Badan Kesehatan Dunia (WHO). Caranya adalah dengan menggabungkan gen Avian dengan gen flu pada manusia agar menjadi ‘aman’. Mereka mengambil satu gen virus flu burung kemudian menggantikan gennya tadi dengan gen flu manusia. Hasil dari kombinasi virus buatan ini kemudian dipersiapkan sebagai basis untuk pembuatan vaksinnya. (Sumber: Pikiran Rakyat 5 Februari 2004).
e.
Para penderita obesitas (penyakit kegemukan) kini pun telah mendapatkan jalan keluar dalam mengatasi kelebihan berat badannya. Hal ini dijelaskan dalam suatu kutipan dari sebuah surat kabar bahwa; Para ahli fisiologi dan ilmu gizi dari Universitas Texas Southwestern Medical Centre, Dallas Amerika Serikat, telah berhasil mengubah sel-sel lemak biasa menjadi lemak yang bisa terbakar. Penelitian dilakukan melalui penyuntikan gen Leptin (suatu protein yang terkait dengan proses metabolisme) pada tikus percobaan. Hasil penyisipan gen membuktikan bahwa sel-sel yang biasanya menimbun lemak berubah menjadi sel-sel pembakar lemak. Akibatnya, tikus menjadi langsing dengan hilangnya 26% bobot tubuhnya selama dua pekan. (Sumber: Pikiran Rakyat 26 Februari 2004).
Demikianlah pemanfaatan Biologi dalam bidang kedokteran, yang pada dewasa ini sudah banyak kemajuan yang dicapai. Di samping itu, berkat penelitian yang terus menerus, bermunculan berbagai cabang ilmu kedokteran (spesialisasi) berikut teknik-tekniknya, yang pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kesehatan manusia. Masyarakat pun kini semakin mengetahui bagaimana cara hidup sehat, mengatur gizi, menghindari serta mencegah penyakit, yaitu dengan selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan, berolah raga secara teratur dan mengkonsumsi makanan bergizi dengan menu 4 sehat 5 sempurna dan pola gizi seimbang.

Lalu bagaimanakah pemanfaatan Biologi dalam bidang Pertanian dan Peternakan? Sudah seberapa banyakkah sumbangan Biologi yang telah diberikan? Pelajarilah uraiannya berikut ini.
PEMANFAATAN BIOLOGI DALAM BIDANG PERTANIAN
Dahulu para petani hanya mengetahui cara-cara bertani yang sederhana/tradisional, yakni hanya dengan mencangkul tanah kemudian menanaminya dengan tanaman yang diinginkan lalu disirami secukupnya. Dan hasil yang didapat ternyata tidak terlalu menggembirakan baik mutu maupun jumlahnya. Jika hal ini tidak segera diperbaiki maka kebutuhan masyarakat akan pangan tidak dapat tercukupi, dan akan terjadi kekurangan bahan pangan (rawan pangan). Apalagi pada masa sekarang ini, dimana telah terjadi ledakan jumlah penduduk, tentunya masalah rawan pangan merupakan masalah yang harus segera ditangani.Usaha yang harus dilakukan tidak hanya pada bagaimana membatasi pertambahan jumlah penduduk, tetapi juga harus dipikirkan bagaimana caranya meningkatkan produksi pangan.

Berkat kemajuan cabang-cabang Biologi dan teknologinya, sudah banyak orang mengetahui bagaimana cara meningkatkan hasil pertaniannya. Masyarakat khususnya para petani, kini telah banyak mengetahui bagaimana cara memilih bibit tanaman unggul, bagaimana cara memilih pupuk yang diperlukan berikut cara memupuknya, serta bagaimana cara memberantas hama dengan pestisida atau insektisida, dengan maksud meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panennya. Mereka pun telah banyak mengetahui teknik-teknik berkebun seperti mencangkok, menempel, mengenten dan sebagainya.

Untuk mendapatkan
bibit unggul dari berbagai jenis tanaman sekarang tidaklah sulit. Hampir di seluruh pelosok tanah air, bibit unggul berbagai jenis tanaman bukan merupakan barang langka lagi. Hal ini berkat makin berkembangnya prinsip-prinsip Genetika yang sudah banyak diketahui oleh para petani, seperti dengan melakukan penyilangan (bastar), yang dapat dilakukan sendiri oleh mereka. Selain itu, dengan menerapkan prinsip-prinsip Fisiologi Tumbuhan, para petani melalui para ahli pertanian yang telah banyak mengetahui jenis pupuk yang baik untuk berbagai jenis tanaman.

Adapun dalam penggunaan
pupuk, pestisida atau insektisida pada persawahan, perkebunan atau perladangan ini, para petani harus memperhatikan faktor keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Misalnya dengan mengikuti/mematuhi dosis (takaran) serta intensitas yang ditetapkan oleh setiap jenis pupuk atau pestisidanya. Jika pemakaian zat-zat kimia tersebut melebihi aturan yang ditetapkan biasanya akan menimbulkan pencemaran air sungai di sekitar areal pertanian tersebut.

Contoh kasus yang sering terjadi akibat pemakaian zat kimia yang tidak memperhatikan faktor keseimbangan ekosistem adalah pada pemakaian pupuk N yang intensif. Pemakaian pupuk N secara terus menerus dapat menyebabkan kadar nitrat dalam air sungai di areal penanaman menjadi tinggi. Akibat yang terjadi kemudian adalah timbulnya penyakit methemoglobinemia jika air sungai tersebut dikonsumsi oleh manusia. Selain timbulnya penyakit itu, dapat terjadi pula eutrofikasi. Apakah methemoglobinemia itu, dan apa yang dimaksud dengan eutrofikasi?

Methemoglobinemia merupakan ketidakmampuan hemoglobin di dalam sel-sel darah merah untuk mengikat oksigen, karena hemoglobin diikat oleh nitrit. Nitrit ini dihasilkan dari pengubahan nitrat yang mengkontaminasi air minum oleh mikroorganisme pada saluran pencernaan manusia. Dan tahukah Anda apa akibatnya jika tubuh kita kekurangan oksigen? Sedangkan eutrofikasi adalah pengeruhan air yang disebabkan oleh berkembang dengan pesatnya alga dan eceng gondok pada perairan yang tercemar nitrat. Eutrofikasi ini menyebabkan organisme seperti ikan-ikan di perairan tersebut menjadi mati. (perhatikan gambar 21). Maka dari itulah, pengetahuan mengenai Ekologi serta teknik bertani sangat diperlukan agar tidak terjadi hal-hal yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat sekitar atau para petani sendiri. Menurut Anda bagaimanakah mencegah pencemaran perairan oleh pupuk nitrat? Ya betul, diantaranya dengan mengadakan pergiliran penanaman jenis tanaman atau rotasi tanaman, sehingga pupuk yang digunakan juga berganti-ganti.
http://203.190.188.132/biologi/e-biologi/MO_75/images/encenggondok.jpg
Gambar 21. Eutrofikasi oleh eceng gondok.
Masalah penyakit-penyakit yang menyerang tanaman, kini juga sudah banyak diketahui penyebabnya. Sudah banyak jenis virus, bakteri dan parasit lain yang menyerang tanaman budi daya yang berhasil diidentifikasi dan ditemukan cara pemberantasannya. Hal ini tentu berkaitan dengan kemajuan di bidang cabang-cabang Biologi seperti virologi, mikrobiologi dan parasitologi. Jadi, cabang-cabang Biologi yang berhubungan dengan bidang pertanian adalah botani, anatomi tumbuhan, fisiologi tumbuhan, virologi tumbuhan, parasitologi, mikrobiologi, genetika dan ekologi.

Perkembangan bioteknologi seperti teknik Rekayasa Genetika, Kultur Jaringan, dan teknik Mutasi Buatan pun kini sudah berhasil membantu mengatasi masalah rawan pangan. Coba Anda perhatikan uraian berikut ini, mengenai contoh-contoh sumbangan pengetahuan yang telah diberikan oleh Biologi beserta cabang-cabang ilmunya dalam dunia pertanian:
a.
Bioteknologi dan Biologi Molekuler telah berhasil menemukan teknik-teknik untuk Rekayasa Genetika, seperti teknik transfer nukleus, teknik pemotongan, penyambungan dan penyisipan gen, dimana teknik-teknik ini bertujuan untuk mencari atau menciptakan jenis tanaman dengan sifat unggul tertentu (tanaman transgenik). Teknik-teknik rekayasa genetika seperti ini biasanya dilanjutkan dengan suatu teknik yang disebut Kloning. Istilah Klon merupakan garis turunan individu-individu yang secara genetik identik. Klon juga diartikan sebagai usaha membuat satu atau lebih replika (duplikat) suatu individu, sel, ataupun gen. Pengaplikasian yang sudah berhasil dilakukan adalah pada terciptanya tanaman budi daya yang mampu menghasilkan insektisida sendiri, sehingga tanaman tersebut tidak perlu disemprot insektisida lagi saat di lahan pertanian nantinya. Contoh jenis tanaman pangan yang telah berhasil di rekayasa dengan tiujuan tersebut adalah tanaman buah apel, pir, kol/kubis, brokoli, dan kentang. Teknik rekayasa genetika ini juga sudah berhasil menciptakan tanaman budi daya yang mampu mengikat nitrogen bebas sendiri dari udara, sehingga tanaman tersebut tidak perlu diberi pupuk nitrogen sintetik lagi saat di lahan pertanian nantinya. Contoh jenis tanaman yang sudah berhasil direkayasa untuk tujuan tersebut adalah pada padi dan gandum.
b.
Melalui kemajuan di bidang Biologi Molekuler, telah dapat diketahui pula urutan gen pada genom sel-sel tumbuhan, sehingga para biologiwan dapat mengidentifikasi urutan-urutan gen tertentu yang bertanggungjawab untuk perkembangan organ. Dengan demikian para biologiwan dapat memodifikasi arah perkembangan tanaman yang diinginkan. Pengaplikasian teknik ini yang sudah berhasil dilakukan adalah telah terciptanya batang pohon jati yang dapat tumbuh dengan diameter besar dan lurus.
c.
Dengan menggunakan teknik kultur Jaringan, tanaman yang sudah diketahui berkhasiat sebagai obat, atau pun tanaman budi daya yang sudah diketahui keunggulan mutunya, dapat diproduksi dengan waktu singkat, dalam jumlah yang banyak, tanpa memerlukan lahan yang luas, dan dengan kondisi steril. Teknik kultur jaringan ini termasuk salah satu usaha kloning, dimana individu-individu baru yang dihasilkan akan sama persis atau identik dengan suatu tanaman yang sudah diketahui manfaat maupun keunggulannya. Adapun contoh-contoh tanaman budi daya yang sudah berhasil diperbanyak dengan teknik kultur jaringan tersebut antara lain tanaman kelapa sawit, tanaman anggrek, tanaman pisang barangan, dan wortel.
d.
Teknik Mutasi Buatan merupakan usaha merubah susunan atau jumlah materi genetik/DNA dengan menggunakan radiasi sinar radioaktif (sinar X, alpha, beta dan gamma) atau dengan senyawa kimia (kolkisin). Teknik mutasi dengan sinar gamma biasanya ditujukan untuk menghasilkan biji-biji tanaman padi dan palawija, agar berumur pendek (cepat dipanen), hasilnya banyak dan tahan terhadap serangan hama wereng. Selain itu, terdapat teknik mutasi buatan lainnya, yakni teknik perendaman biji-biji tanaman perkebunan dan pertanian dalam senyawa kolkisin, senyawa ini menyebabkan tanaman mempunyai buah yang besar dan tidak berbiji; misalnya buah semangka, pepaya, jeruk, dan anggur tanpa biji, seperti pada gambar 22 berikut. Namun sayangnya tanaman ini tidak dapat menghasilkan tanaman baru sebagai keturunannya, karena buah-buahan yang dihasilkan tidak memiliki organ reproduksi yaitu biji. Lalu bagaimanakah caranya bila kita menghendaki buah-buahan tanpa biji lagi? Ya benar, kita harus memulai lagi dari perendaman biji-biji (benih) dari buah yang memiliki biji, dengan senyawa kolkisin. Baru kemudian ditanam dan ditunggu hasil buahnya yang pasti tidak memiliki biji.
http://203.190.188.132/biologi/e-biologi/MO_75/images/pepaya2.jpg
(a)
http://203.190.188.132/biologi/e-biologi/MO_75/images/jeruk.jpg
(b)
Gambar 22. Buah-buahan tanpa biji
hasil mutasi buatan; (a) pepaya,(b) jeruk.
Demikianlah pemanfaatan Biologi dalam bidang pertanian. Bagaimana, sampai di sini apakah Anda sudah memahami seluruh uraian yang diberikan? Bagus! Untuk memperkaya wawasan Anda mengenai pemanfaatan Biologi bagi kehidupan manusia, sekarang pelajarilah bagaimana pemanfaatan Biologi pada dunia Peternakan berikut ini. Sumbangan apakah yang sudah diberikan Biologi dalam upaya mengatasi masalah rawan pangan dan perbaikan gizi masyarakat?
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur (urutan langkah) yang harus dilakukan untuk melakukan suatu proyek ilmiah (science project). Secara umum metode ilmiah meliputi langkah-langkah berikut:
Setelah topik yang akan diteliti dalam proyek ilmiah ditentukan, langkah pertama untuk melakukan proyek ilmiah adalah melakukan observasi awal untuk mengumpulkan informasi segala sesuatu yang berhubungan dengan topik tersebut melalui pengalaman, berbagai sumber ilmu pengetahuan, berkonsultasi dengan ahli yang sesuai.
· Gunakan semua referensi: buku, jurnal, majalah, koran, internet, interview, dll.
· Kumpulkan informasi dari ahli: instruktur, peneliti, insinyur, dll.
· Lakukan eksplorasi lain yang berhubungan dengan topik.
http://alphaomega86.tripod.com/images/AN386.GIF
Permasalahan merupakan pertanyaan ilmiah yang harus diselesaikan. Permasalahan dinyatakan dalam pertanyaan terbuka yaitu pertanyaan dengan jawaban berupa suatu pernyataan, bukan jawaban ya atau tidak. Sebagai contoh: Bagaimana cara menyimpan energi surya di rumah?
· Batasi permasalahan seperlunya agar tidak terlalu luas.
· Pilih permasalahan yang penting dan menarik untuk diteliti.
· Pilih permasalahan yang dapat diselesaikan secara eksperimen.
http://alphaomega86.tripod.com/images/AN386.GIF
Hipotesis merupakan suatu ide atau dugaan sementara tentang penyelesaian masalah yang diajukan dalam proyek ilmiah. Hipotesis dirumuskan atau dinyatakan sebelum penelitian yang seksama atas topik proyek ilmiah dilakukan, karenanya kebenaran hipotesis ini perlu diuji lebih lanjut melalui penelitian yang seksama. Yang perlu diingat, jika menurut hasil pengujian ternyata hipotesis tidak benar bukan berarti penelitian yang dilakukan salah.
· Gunakan pengalaman atau pengamatan lalu sebagai dasar hipotesis
· Rumuskan hipotesis sebelum memulai proyek eksperimen
http://alphaomega86.tripod.com/images/AN386.GIF
Eksperimen dirancang dan dilakukan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Perhitungkan semua variabel, yaitu semua yang berpengaruh pada eksperimen. Ada tiga jenis variabel yang perlu diperhatikan pada eksperimen: variabel bebas, variabel terikat, dan variabel kontrol.
Varibel bebas merupakan variabel yang dapat diubah secara bebas. Variabel terikat adalah variabel yang diteliti, yang perubahannya bergantung pada variabel bebas. Variabel kontrol adalah variabel yang selama eksperimen dipertahankan tetap.
· Usahakan hanya satu variabel bebas selama eksperimen.
· Pertahankan kondisi yang tetap pada variabel-variabel yang diasumsikan konstan.
· Lakukan eksperimen berulang kali untuk memvariasi hasil.
· Catat hasil eksperimen secara lengkap dan seksama.
http://alphaomega86.tripod.com/images/AN386.GIF
Kesimpulan proyek merupakan ringkasan hasil proyek eksperimen dan pernyataan bagaimana hubungan antara hasil eksperimen dengan hipotesis. Alasan-alasan untuk hasil eksperimen yang bertentangan dengan hipotesis termasuk di dalamnya. Jika dapat dilakukan, kesimpulan dapat diakhiri dengan memberikan pemikiran untuk penelitian lebih lanjut.
Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis:
· Jangan ubah hipotesis
· Jangan abaikan hasil eksperimen
· Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai
· Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan penyebab ketidaksesuaian
· Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi atau susun ulang eksperimen.
Setiap orang pasti pernah merasa lapar. Perut kita merasa lapar ketika waktu telah melampaui saat dimana biasanya kita sudah makan. Kita sering mengalami ketika pagi hari kita lupa sarapan, atau karena kesibukan kita maka tidak sempat makan. Jengkel rasanya, jika ketika kita merasa lapar namun makanan tidak tersedia. Namun bagi kita, lapar kadang kadang tidak terkait dengan tidak tersedianya makanan, tapi juga soal pilihan selera makanan. Ketika makanan yang tersedia tidak cocok dengan selera kita, maka kita rela untuk tidak memakannya dan kita lapar. Kerelaan untuk merasa lapar juga terkait dengan niat dan kepercayaan, misalnya ketika kita menjalani ibadah puasa atau sedang menjalani terapi diet untuk kesehatan.
Tapi pernahkan anda merasakan atau setidaknya membayangkan situasi dimana kita merasa sangat lapar, karena kita tidak mampu memperoleh makanan, baik karena tidak punya uang atau memang makanan tidak ada di sekitar kita ? Artinya kita kelaparan bukan karena lupa tidak makan, sibuk sehingga tidak sempat makan atau memang niat untuk rela tidak makan. Memangnya masih adakah orang yang kelaparan di Indonesia ?
Ketika mendengar kata kelaparan yang sering kita bayangkan adalah seperti yang terjadi di Afrika, dalam bentuk kelaparan kronis yakni orang tua dengan anaknya, berkulit hitam, dengan badan kurus kering dan perut membesar, tinggal di daerah padang pasir yang menunggu bantuan pangan dari orang lain. Kita pun merasa kasihan. Namun kita sempat terhentak karena bentuk bentuk kelaparan mulai terkuak di negeri ini, ketika berbagai media memberitakan bahwa banyak saudara saudara kita di berbagai daerah di tanah air mengalami kelaparan.
Kelaparan merupakan sebuah ujung dari berbagai sebab dan manifestasinya bisa dalam berbagai bentuk. Secara umum kelaparan diakibatkan oleh kemiskinan terutama akses terhadap kebutuhan hidup dasar terutama pangan pokok. Lapar bisa karena makanan tidak tersedia baik secara tiba tiba maupun secara sistematis, atau karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Misalnya seperti yang diberitakan berbagai media akibat bencana alam membuat masyarakat setempat tidak memiliki akses untuk memperoleh makanan, atau kekeringan yang panjang mengakibatkan produksi pangan tidak berhasil memenuhi kebutuhan pangan seperti yang terjadi di Yahokimo Papua dan beberapa daerah di NTT. Namun ketika kelaparan terjadi di daerah pinggiran Ibukota seperti Tangerang dan Bogor, maka hal tersebut pasti disebabkan karena rendahnya pendapatan sehingga tidak mampu membeli makanan pokok.
Nampaknya kita harus berhati hati, jangan jangan ada saudara atau tetangga di sekitar rumah kita yang kelaparan. Artinya kita tidak harus menunggu berita di media massa supaya kita tahu bahwa ada kelaparan di sekitar kita. Tapi jika kita menemukan ada saudara dan tetangga kita kelaparan maka apa yang harus kita lakukan ? Siapa yang sesungguhnya bertanggung jawab atas bentuk bentuk kelaparan tersebut ?
Pangan dalam Tatanan Kehidupan
Kalau kita pernah belajar ilmu biologi di SMA, maka kita pasti ingat bahwa kehidupan itu sebenarnya adalah reaksi bongkar pasang makro molekul makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak yang berlangsung dalam sel. Manusia adalah salah satu bentuk organisme yang sebanarnya sama dengan makhluk lain namun hanya berbeda jumlah makromolekul yang dibongkar pasang untuk melangsungkan kehidupan.
Setiap makhluk hidup, entah manusia, hewan, tanaman atau mikroorganisme membutuhkan makanan yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi namun juga sebagai bahan baku biosintesis makromolekul organismenya. Manusia misalnya, memperoleh makanan dari hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan tiada hentinya dengan mensintesis bahan makanan dengan mengunakan sinar matahari sebagai sumber energi, karbon monoksida dan air sebagai bahan bakunya. Tanaman menggunakan energi matahari untuk melakukan fotosintesis sehingga bisa menyimpan energi dalam bentuk cadangan makanan yang oleh manusia dengan cara dimakan (dibongkar pasang) dalam sistem biokimia tubuh kita, sehingga manusia melangsungkan siklus kehidupan seperti yang pernah kita pelajari dalam ilmu biologi dasar.
Oleh karena itu berbicara mengenai makanan adalah berbicara mengenai kehidupan yang terus berlanjut pada semua makluk hidup meski tanpa pakaian, rumah, kompor, televisi, komputer, mobil, kulkas, telepon seluler dan bermain facebook. Selama ada makanan, kehidupan akan terus berlangsung walau dalam keadaan telanjang dan tanpa pendidikan serta berbagai asesoris kehidupan lainnya.
Pangan merupakan kebutuhan dasar, dan merupakan kebutuhan esensial untuk kehidupan terus berlangsung. Setiap manusia (atau organisme lainnya) pada dasarnya tidak merencanakan kelahirannya dan keberadaanya sendiri. Seyogyanya setiap makhluk hidup mempunyai hak hidup yang sama, artinya setiap manusia mempunyai hak yang sama atas makanan, sumber kehidupannya. Sederhananya, kebutuhan makan merupakan hak asasi bagi setiap manusia. Kelaparan dan kurang gizi adalah bentuk bentuk tidak terpenuhinya hak asasi manusia atas pangan.
Manusia tidak boleh memonopoli bahan pangan, menindas orang lain supaya tidak bisa makan, atau menggunakan argumen ekonomi (untung rugi) sehingga manusia lain kelaparan. Perkembangan peradaban, moral dan teknologi ternyata belum membawa manusia memperoleh kesejahteraan secara merata. Perkembangan peradaban seolah olah mencabut pangan dari tatanan kehidupan yang harmonis antar sesama makhluk hidup dan merubahnya menjadi benda mati yang harus diperoleh melalui persaingan, pertarungan, kompetisi sengit antar umat manusia melalui kancah ekonomi, perdagangan dan politik.
Ketika pangan telah berubah menjadi komoditas perdagangan semata, yang keluar dari esensi fungsi dasarnya sebagai media kehidupan maka yang terjadi adalah penguasaan dan pemusatan kekuatan produksi pangan di satu sisi dan kekurangan pangan di sisi yang lain. Hampir 70 persen bisnis di dunia dan di Indonesia terkait dengan pangan dan pertanian, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan situasi kekurangan pangan yang justru masih terus berlanjut sampai saat ini.
Hak Atas Pangan dan Hak Untuk Tidak Lapar
Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki laut yang luas dan daratan yang subur dengan kekayaan sumber pangan yang luar biasa. Kalau melihat sumberdaya produksi maka rasanya seperti tidak mungkin ada anak bangsa ini yang harus menderita kelaparan dan kurang gizi. Namun menurut data dari Badan Bimas Ketahanan Pangan, Deptan (2004) ternyata masih banyak penduduk Indonesia yang rawan pangan, dimana pada tahun 2002 terdapat 21,7 persen penduduk rawan panga yang terdiri 15 persen merupakan penduduk rawan pangan dan 6 persen penduduk mengalami sangat rawan pangan. Susenas (2003) mencatat adanya sekitar 5,1 juta atau sekitar 27,5 persen anak balita mengalami kurang gizi. Dari jumlah itu ternyata 8,3 persen diantaranya menderita gizi buruk, atau kurang gizi kronis. Sebagai akibatnya sekitar 305.000 bayi dan anak balita meninggal setiap tahunnya, dan 180.000 diantaranya karena kekurangan gizi.
Fakta tersebut menggambarkan bahwa walaupun negeri kita kaya akan sumber pangan dan gizi namun masih banyak masyarakat miskin yang tidak mampu memperolehnya. Mengapa hal itu terjadi ? Hal tersebut erat kaitannya dengan akses terhadap pangan terutama disebabkan karena rendahnya pendapatan dan distribusi pangan yang tidak adil dan merata. Sementara itu walaupun disadari bahwa pangan adalah kebutuhan dasar untuk melangsungkan kehidupan, namun kenyataannya dalam perkembangan tidak semua orang mampu mengakses pangan. Dalam hal ini perlu peran pemerintah untuk menjamin kecukupan pangan bagi seluruh rakyat dan bagi semua orang.
Tahun 2004, BPS melaporkan bahwa produksi padi kita meningkat dan dengan gagah pemerintah menyatakan bahwa kita akan mencapai swasembada beras seperti tahuan 1984. Namun bagai disambar petir di siang bolong, akibat gagal panen pada awal tahun 2005 kita dikejutkan dengan kabar kelaparan kronis yang melanda 10 kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini menggambarkan bahwa sebenarnya pangan kita cukup untuk memenuhi kebutuhan namun karena pangan hanya dilihat sebagai komoditas semata maka yang menonjol adalah aspek perdagangan dibanding aspek pemenuhan hak rakyat.
Pada level internasional kesadaran pentingnya kecukupan pangan sudah disadari sejak lama. Dalam deklarasi Hak Asasi Manusia tahun 1948 artikel 11 (1) dinyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak atas kehidupan standar yang cukup untuk kesehatan dan kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya termasuk makanan. Hal tersebut diperkuat dengan konvenan Hak Sosial, Ekonomi dan Budaya tahun 1966, dinyatakan bahwa negara penandatangan konvenan harus mengakui hak mendasar setiap orang untuk bebas dari kelaparan, baik secara individu maupun internasional harus mengambil langkah langkah termasuk program khusus untuk mengatasi kelaparan. Deklarasi Roma tahun 1996, tentang ketahanan pangan dunia (World Food Summit) menyatakan bahwa setiap orang mempunyai hak untuk tidak kelaparan dan mempunyai akses yang cukup, bergizi dan aman bagi dirinya.
Pada level nasional pun sebenarnya sudah penegasan dari UU No 7 tahun 1996 tentang Pangan yang secara jelas menyatakan bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar yang pemenuhannya merupakan hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam rangka mewujudkan sumberdaya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Dengan berbagai penegasan secara hukum ini seharusnya pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia harus mengupayakan sekuat mungkin dan menjadikan prioritas untuk menghapuskan segala bentuk kelaparan yang ada di negeri ini.
Kegiatan yang dilakukan pada waktu penyuluhan adalah pemberian materi. Materi pertama yang diberikan adalah penjelasan mengenai deskripsi millet, yang meliputi bentuk, manfaat, dan habitat millet. Materi ini diberikan oleh anggota tim yang bernama Novi Eka Susilowati. Materi kedua yang diberikan yaitu materi mengenai budidaya millet. Materi ini diberikan oleh mahasiswa Biologi yang bernama Ika Mei Siswati. Materi terakhir adalah materi tentang pengolahan millet yang diberikan oleh anggota tim yang bernama Wiwik Fitri Sholikhah. Dalam kegiatan tersebut, pemberian materi berjalan cukup lancar. Bahkan, setelah pemberian materi, beberapa peserta cukup antusias yang terbukti dengan antusiasme peserta dalam bertanya.
Setelah acara penyampaian materi, tim bersama dengan para peserta langsung melakukan demo masak untuk mengolah tepung millet. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengarahan kepada para peserta, yang kebanyakan ibu-ibu PKK, tentang cara mengolah tepung millet menjadi makanan agar dapat dijual di pasaran. Hasil olahan dari tepung millet antara lain adalah mie, bubur, pastel kering, kue bawang dan tape goreng millet.
Dalam acara ini, tim juga memberikan bantuan kepada desa tersebut berkaitan dengan budidaya millet. Tim sengaja menyewa tanah untuk dijadikan lahan percontohan budidaya millet. Di lahan tersebut, tim menanam millet sebagai contoh untuk dikembangkan masyarakat. Selain itu, tim juga memberikan bantuan berupa millet, benih millet, pupuk, dan sejumlah uang perawatan lahan percontohan. Hasil pemanenan millet tersebut juga diberikan kepada masyarakat agar mereka bisa menanam millet tersebut di lahan mereka.
IMPLEMENTASI IMAN DAN TAQWA
DALAM KEHIDUPAN MODERN
Oleh : Junaidi Idrus, S.Ag., M.Hum
Pertanyaan :
Mengapa di dunia ini banyak terjadi kemaksiatan, kejahatan, kekerasan dan kezaliman ?
1. Tantangan, problem dan resiko kehidupan modern
Pendahuluan
Manusia adalah homo sapiens ( hewan rasional ). Dengan kemampuan akal manusia dapat mengatasi keterbatasan pada dirinya. Kegelapan dapat diatasi dengan lampu. Kelebihan manusia pada makhluk lain terletak pada akalnya.


Realitas kemampuan manusia:
- Manusia tidak hanya mengenal nama-nama benda yang ada
- Manusia dapat mengembangkan dana menciptakan nama-nama baru pada benda yang diciptakannya
- Kemampuan membuat benda-benda disebut kebudayaan [ fisik – non fisik ]
- Manusia mampu mengembangkan kebudayaannya akibat sains dan tekhnologi
Mengapa Allah menempatkan posisi manusia lebih tinggi di banding malaikat?
Karena manusia dapat mengenal nama-nama [ Qs. Al-Baqoroh:31].

Berbagai Persoalan manusia di era modern :





1. Problem utama modernitas : [ dampak negatif penemuan tekhnologi ]
* Terjadinya pencemaran lingkungan
* Rusaknya habitat hewan-tumbuhan
* Munculnya beragam penyakit
* Penebangan hutan secara liar dan membabi buta



2. Dalam bidang ekonomi : [ Persoalan kapitalisme-Materialisme ]
* Melahirkan manusia yang konsumtif-materialistik dan eksploitatif
* Manusia hanya memandang dirinya sebagai mahkluk economicus [ manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri ]
* Manusia melupakan dirinya sebagai makhluk homo religious yang sarat dengan kaidah moral
* Prinsip ekonomi kapitalis telah melahirkan manusia serakah-egois
Salah satu contoh kasus di Indonesia:
“ Demi kepentingan lahan pertanian-perumahan, tidak malu menggunduli hutan–membakarnya. Import mobil dan motor secara besar-besaran tidak pernah memperhitungkan dampak polusi bagi kesehatan. Pelaku ekonomi kecil, adalah menggunakan lahan trotoar sebagai tempat berjualan dengan tidak mempertimbangkan keselamatan pejalan kaki.






3. Dalam bidang moral : [ Paham liberalisme – kebebasan berekspresi ]
* Melalui tekhnologi informasi di ekspose secara besar-besaran meski menabrak batas-batas agama.
* Globalisasi berwajah westernisasi ( penanaman nilai-nilai Barat dengan melepas nilai-nilai moral agama )
* Westernisasi mempunyai kemampuan melindas local culture budaya lokal ) buktinya: Bangsa Indonesia dalam banyak hal selalu berkiblat pada dunia Barat dan menjadikannya sebagai simbol kemajuan



4. Dalam persoalan sekularisme : [ Tarik menarik antara dunia – agama ]
* Urusan dunia dipisahkan dari agama
* Munculnya split personality ( manusia berkepribadian ganda ), contohnya : pada saat yang sama ia bisa menjadi seorang koruptor, meskipun ia taat beribadah.
* Peran agama akan semakin kehilangan ruhnya



5. Dalam persoalan keilmuan : [ Munculnya pemikiran positivisme ]
! Sesuatu dikatakan benar jika; menggunkan tolok ukur kebenaran rasional, empiris, eksperimental dan terukur secara metodologis.
! Bagaimana hubungan antara agama dan ilmu.

Terdapat 3 hubungan antara agama dan ilmu :
  1. Konflik [ agama dan ilmu ditempatkan pada posisi bertentangan ]. Hal ini terjadi pada abad pertengahan dalam kasus bagaimana penemuan ilmiah bertentangan dengan gereja, sehingga seseorang harus menentukan pilihan yaitu “ Menjadi orang yang beriman tapi menolak kebenaran ilmiah ATAU menerima pendapat ilmiah dengan konsekuensi ia dianggap kafir.
  1. Independent. Artinya “ agama dan ilmu adalah dua domain yang dapat hidup bersama sepanjang mempertahankan “jarak aman” satu sama lain. Secara universal dapat dijelaskan :
- Ilmu dan agama mempunyai bahasa sendiri karena melayani fungsi yang berbeda dalam hidup manusia
- Ilmu menelusuri cara kerja benda-benda dan berurusan dnegan fakta objektif
- Agama berurusan dengan nilai dan makna tertinggi
- Ilmu dan agama menawarkan dua perspektif yang saling melengkapi dan bukan saling menjatuhkan
-
  1. Dialog. Artinya membandingkan metode kedua bidang ini yang dapat menunjukkan kemiripan dan perbedaan. Artinya keduanya bersinergi agar perkembangan ilmu tidak justru menjatuhkan martabat manusia.

1 komentar: